MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL
PERUSAHAAN
MULTINASIONAL (MULTINATIONAL CORPORATE)
JUWITA SINAGA
120502144

DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2015
I.
TAHAP
PERKEMBANGAN PERUSAHAAN DALAM BISNIS INTERNASIONAL
Terlepas
dari perbedaan atau persamaan pengertian untuk berbagai istilah yang digunakan
dalam bisnis internasional, terdapat
lima tahapan evolusi perusahaan dalam dalam operasi internasional, mulai dari
perusahaan domestik, internasional, multinasional, global sampai transnasional.
Perbedaan
dalam tahap-tahap ini terletak dalam strategi, cara memandang dunia, orientasi,
dan praktik perusahaan yang beroperasi di lebih dari satu negara.
a)
Tahap
Pertama : Perusahaan Domestik
Fokus
perusahaan ini pada pasar domestik, pemasok domestik dan pesaing domestik.
Lingkungan perusahaan terbatas pada lingkungan domestik yang sudah dikenal,
yaitu negara sendiri. Jadi fokus, visi, orientasi dan operasinya adalah
domestik. Jadi perusahaan domestik adalah suatu unit bisnis yang tingkat
operasional dan pangsa pasarnya berada dalam suatu wilayah saja tanpa melewati
batas suatu negara.
b)
Tahap
Kedua : Perusahaan Internasional
Pada tahap kedua, perusahaan
mulai mengembangkan kegiatannya ke luar negeri, termasuk kegiatan pemasaran, pengembangan
pabrik dan kegiatan lainnya. Walaupun kegiatannya sudah berkembang ke luar
negeri, akan tetapi pada tahap ini perusahaan masih etnosentris atau
berorientasi dalam negeri sebagai orientasi dasarnya, dan fokusnya masih tetap
pada pasar dalam negeri. Strategi pemasaran dari perusahaan tahap kedua
adalah perluasan, artinya praktik bisnis
yang dikembangkan untuk pasar dalam negeri diperluas untuk pasar di luar
negeri, termasuk di dalamnya produk, iklan, promosi dan penetapan harga. Dengan
sumber daya dan pengalaman yang terbatas, perusahaan harus memfokuskan pada apa
yang paling baik untuk mereka.
c)
Tahap
Ketiga : Perusahaan Multinasional
Pada tahap ketiga, perusahaan
yang berada pada tahap kedua mulai menemukan bahwa perbedaan dalam pasar di
seluruh dunia menuntut adaptasi dari bauran pemasaran agar dapat sukses.
Apabila sebuah perusahaan sudah mulai memutuskan untuk memberikan respons
terhadap perbedaan pasar, maka perusahaan itu telah beranjak menjadi perusahaan
multinasional. Fokus perusahaan adalah multinasional atau dalam istilah
strategis disebut multidomestik, yang artinya perusahaan tersebut merumuskan
strategi yang unik untuk setiap negara tempat perusahaan melakukan bisnis.
Orientasi perusahaan bergeser dari etnosentris ke polisentris, yaitu asumsi
bahwa pasar dan cara melakukan bisnis di seluruh dunia demikian unik, sehingga
satu-satunya cara agar sukses secara internasional adalah melakukan penyesuaian
pada aspek yang berbeda dari setiap pasar nasional.Strategi pemasaran tahap
ketiga adalah menyesuaikan bauran pemasaran domestik agar cocok dengan pilihan
dan kebiasaan asing. Penyesuaian dengan budaya
di tiap negara yang dimasuki adalah suatu keharusan untuk dapat bertahan
dan sukses. Dengan mendirikan banyak unit produksi di negara lain diharapkan
dapat menghemat biaya produksi dan distribusi produk sehingga sampai ke tangan
konsumen akhir.
d)
Tahap
Keempat : Perusahaan Global
Pada tahap kekempat, perusahaan
multinasional membuat ancangan strategi yang cukup besar dan menjadi perusahaan
global. Perusahaan global pasti mempunyai strategi pemasaran global atau
menentukan pemasok global, tetapi tidak pernah kedua-duanya. Perusahaan ini
akan memfokuskan pada pasar dan sumber daya global dari dalam negeri atau salah
satu negara lain untuk memasok pasar ini, atau akan memfokuskan pada pasar
domestik dan sumber daya dari dunia untuk memasok saluran distribusi domestik.
e)
Tahap
Kelima : Perusahaan Transnasional
Pada
tahap kelima, perusahaan global semakin lama semakin mendominasi pasar dan
industri di seluruh dunia dan kemudian menjadi perusahaan transnasional yang
merupakan perusahaan dunia yang terpadu yang menghubungkan sumber daya global
dengan pasar global dan membuat laba. Perusahaan pada tahap kelima mempunyai
orientasi geosentris., mengakui adanya perbedaan dan persamaan serta mengadopsi
pandangan dunia. Perusahaan mengadopsi strategi global yang memungkinkannya
untuk meminimalkan penyesuaian di berbagai negara pada yang benar-benar
menambah nilai bagi pelanggan di negara tersebut.
II.
FAKTOR
PENDORONG BISNIS INTERNASIONAL DI ABAD 20
Terdapat
berbagai faktor yang mendorong berkembangnya bisnis internasional di abad 20,
yang diantaranya adalah sebagai berikut.
a)
Polarisasi Dunia
Selama Perang Dunia II
telah terjadi polarisasi kelompok-kelompok yang berperang. Polarisasi ini telah
meningkatkan kerjasama dalam memproduksi alat-alat perang dan bahan pangan.
b)
Terbentuknya Blok-Blok
Politik
Setelah
selesainya Perang Dunia II telah terbentuk blok barat dengan Amerika Serikat
sebagai negara utamanya, dan blok timur
dengan Uni Sovyet sebagai negara utamanya. Terbentuknya blok-blok ini telah
mendorong peningkatan kerjasama perdagangan antar negara di dalam blok-blok
tersebut.
c)
Depresi Ekonomi
Dalam
tahun 1930-an telah terjadi depresi ekonomi yang melanda berbagai negara di
dunia, terutama negara-negara barat. Depresi ekonomi ini telah meningkatkan
kerjasama antar negara-negara barat yang menanggulangi permasalahan ekonomi
tersebut.
d)
Revolusi Bidang
Komunikasi
Dalam
abad 20 telah terjadi revolusi di dalam bidang komunikasi dengan berbagai
penemuan baru yang menyebabkan makin mudahnya komunikasi, baik antar penduduk
maupun antar negara, Hal ini telah memudahkan komunikasi bisnis antar negara.
Revolusi di bidang komunikasi ini juga sejalan dengan revolusi di bidang
informasi dan transportasi.
e)
Kemerdekaan
Daerah-Daerah Jajahan
Selama
pertengahan sampai akhir abad 20 berbagai daerah jajahan telah memerdekakan
diri dan membentuk negara baru..
f)
Rekonstruksi Negara
Yang Kalah Perang
Rekonstruksi
negara-negara yang kalah perang, seperti Jerman dan dan Jepang, telah mendorong
pengembangan teknologi dan kegiatan ekonomi. Hal ini telah meningkatkan
kerjasama dalam bidang ekonomi, termasuk perdagangan internasional.
III.
PERUSAHAAN
MULTINASIONAL
Perusahaan multinasional adalah perusahaan yang berada di
satu negara yang mempunyai operasi produksi dan penjualan di beberapa Negara
lain. Jumlah Negara tempat MNC beroperasi sekurang-kurangnya 5 sampai 6 negara. Serta
merupakan sebuah induk perusahaan (
holding company), dengan sejumlah operasi luar negeri, masing-masing diberi
wewenang untuk menyesuaikan produk-produk dan strategi pasarnya dengan apa yang
dianggap oleh para manajer lokal sebagai aspek-aspek unik dari pasar-pasar
individual mereka.
Suatu perusahaan domestik untuk menjadi perusahaan
multinasional tidak harus melalui tahap ekspor, lisensi, kemudian FDI. Tetapi
sebaiknya perusahaan domestik tersebut harus mempelajari cara apa yang paling
efektif untuk memasarkan produknya di luar negeri. Jika perusahaan tersebut
sudah menjadi leader dalam pangsa pasar domestik dan dapat memperkirakan untuk
menguasai pasar internasional, perusahaan tersebut bisa menjadi MNC tidak harus
melalui tahap ekspor, tetapi bisa dengan memberikan lisensi atau langsung FDI
ke Negara yang dituju. Tetapi jika perusahaan tersebut masih dalam taraf ingin
mencoba-coba memasuki pasar internasional, maka sebaiknya melakukan mulai dari
tahap ekspor, lisensi, kemudian FDI agar
jika percobaan yang dilakukan gagal tidak menanggung banyak kerugian.
Karena dengan ekspor keuntungannya ialah memiliki risiko
minimal, jika ekspor menurun, perusahaan dapat mengurangi atau menghilangkan
ekspornya agar tidak mengalami banyak kerugian. Kelemahan ekspor ialah
perusahaan dapat dikenakan tariff atas pajak ekspor produknya serta biaya
transportasi yang relatif tinggi.
Lisensi memberikan keuntungan dengan adanya fee yang didapat
dari kontrak atas hak cipta yang dipergunakan suatu perusahaan asing dan tidak
memerlukan biaya transportasi yang besar untuk pengiriman barang(ekspor). Kelemahannya
ialah perusahaan sulit untuk menjamin kualitas produk mereka di luar negeri.
Foreign direct
investment (FDI) memberikan keuntungan kepada perusahaan dengan biaya produksi
yang relatif lebih murah dikarenakan perusahaan membangun langsung pabrik
mereka di suatu Negara serta tidak adanya biaya tariff pajak dan transportasi
atas barang impor Kelemahannya ialah, jika mengalami kegagalan maka akan
menanggung kerugian yang besar serta memerlukan modal investasi yang lebih
besar dibandingkan ekspor/impor dan lisensi.
Enam
faktor utama yang mempersulit manajemen keuangan dalam MNC ialah :
·
Lingkungan
ganda
Dengan
adanya lingkungan yang ganda yang meliputi home dan host country maka dengan
begitu perusahaan harus mengatur keuangan yang berasal dari pemasukan dalam dan
luar negeri serta pengeluaran bagi dalam dan luar negeri.
·
Tantangan
yang kritis
Semakin
besar pasar yang dimasuki oleh suatu perusahaan, maka semakin besar tantangan
yang dihadapi. Hal ini berupa pesaing, pelanggan, pemasok, lembaga keuangan
pemerintah, dan budaya. Unsur-unsur tersebut dapat mempersulit manajemen
keuangan untuk mengoptimalkan penggunaan modal bagi perusahaan.
·
Operasi
terpisah
Jika
operasi yang dilakukan terpisah, maka hal ini dapat mempersulit manajemen
keuangan dikarenakan manajer harus membagi dua/beberapa sumber penggunaan modal
dan harus memikirkan pada operasi bagian apa yang harus di optimalkan.
·
Centralized
ownership
Dengan
adanya kepemilikan yang terpusaat, maka diharapkan penggunaan modal untuk
investasi di suatu Negara tertentu akan dapat memberikan keuntungan yang besar
bagi pemilik.
·
Global
integrated system
Perusahaan
MNC yang berproduksi secara global telah menstandarkan produk meraka. Hal ini
harus dicermati oleh manajer keuangan dengan melakukan penilaian proyek yang
menguntungkan bagi perusahaan.
·
Memiliki
sumber-sumber menyatu
Dengan
kepemilikan sumber yang menyatu maka manajer keuangan harus mengoptimalkan
penggunaan sumber-sumber yang menyatu sehingga dapat memberikan keuntungan dari
investasi proyek yang dilakukan bagi perusahaan
Pengaruh terhadap dollar jika AS
mengimpor lebih banyak barang dari luar negeri ialah, nilai dollar mengalami
depresiasi karena terjadi defisit neraca pembayaran yang disebabkan karena M
> X.
Pengaruh terhadap investasi luar negeri di Amerika akan
semakin berkurang/menurun hal ini dikarenakan, investor yang semula berpikir
nilai dollar relatif stabil jika dibandingkan Negara lain ternyata telah
mengalami depresiasi nilai yang bisa berdampak pada kerugian investor dengan
harus membayar biaya yang lebih mahal daripada sebelumnya.
Dampak
operasi multinasional terhadap :
·
Manajemen
kas : dengan adanya manajemen kas, maka manajer/investor dapat memperhitungkan
seberapa besar arus modal masuk dan keluar kepada suatu proyek investasinya
sehingga mereka dapat melihat apakah proyek tersebut menguntungkan atau tidak
bagi mereka.
·
Keputusan
penganggaran modal : dengan adanya keputusan penganggaran modal yang efektif
maka diharapkan dapat memilih keputusan investasi yang tepat untuk menetapkan
modal yang layak bagi suatu proyek investasi di suatu Negara.
·
Manajemen
kredit : dengan adanya manajemen kredit, maka diharapkan dalam operasi
multinasional manajer dapat memilih sumber pendanaan yang tepat untuk mendukung
investasi mereka.
·
Manajemen
persediaan dengan adanya manajemen persediaan maka manajer dalam MNC dapat
memutuskan kapan sebaiknya memesan, berapa persediaan yang diharuskan untuk
produksi, dsb.
Karakteristik
Perusahaan Multinasional :
1.
Membentuk afiliasi diluar negeri
2.
Visi dan strategi mendunia (global)
3.
Kecenderungan memilih jenis kegiatan bisnis tertentu, umumnya
manufakturing
4.
Menempatkan afiliasi di negara-negara maju
5.
Sejumlah aset perusahaan
multinasional diinvestasi secara internasional
6.
Bergerak dalam produksi internasional dan mengoperasikan beberapa pabrik
di beberapa negara
Adapun
keuntungan cabang PERUSAHAAN
MULTINASIONAL bagi pihak tuan rumah yaitu, memperbanyak
jumlah kesempatan kerja, basis pajak yang lebih besar, ekspansi modal,
diperkenalkannya jenis industri khusus, alih teknologi, dan pengembangan sumber
daya lokal. Kebaikan perusahaan multinasional, antara
lain:
·
Menambah devisa Negara melalui penanaman di bidang
ekspor.
·
Mengurangi kebutuhan devisa untuk import di sector
industry.
·
Memodernisir industry.
·
Ikut mendukung pembangunan nasional.
·
Menambah kesempatan kerja dengan membuka lapangan
kerja baru
Sedangkan
keluhan negara tuan rumah tehadap cabang PERUSAHAAN MULTINASIONAL :
·
Mendominasi
perekonomian setempat
·
Mencari laba yang
berlebihan
·
Hanya mempekerjakan tenaga
lokal yang sangat berbakat
·
Gagal melakukan alih
teknologiyang maju
·
Melakukan intervensi
terhadap pemerintah
·
Kurang membantu
perkembangan perusahaan domestik
·
Kurang menghormati
adat, hukum dan
Peluang Yang Diberikan
Perusahaan Multinasional
Karena perusahaan multinasional
beroperasi di banyak negara, maka kesempatan dan peluang untuk berinteraksi
dengan partner dari negara berbeda sangat tinggi. Termasuk di dalamnya peluang
untuk ditempatkan di negara lain. Jika berbicara tentang perusahaan multinasional,
maka seorang karyawan harus melihat karirnya secara global. Jadi, tidak hanya
siap menjadi karyawan di negeri sendiri, melainkan harus mau dan mampu bersaing
dengan negara-negara lainnya termasuk jika ditugaskan untuk ekspatriasi ke
negara lain. Hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan karena harus
memiliki kemampuan beradaptasi dengan budaya yang berbeda-beda.
CONTOH
– CONTOH PERUSAHAAN MULTINASIONAL
1.
LEVI’S
JEAN
Sebuah kisah menggambarkan sejarah celana jeans yang
telah diciptakan oleh Levi Strauss tahun 1880 ini, delapan tahun setelah jeans
masuk ke Amerika Serikat (AS) tahun 1872. Jeans Levis pertama kali dibuat di
Genoa, Italia tahun 1560-an. Kain celana ini biasa dipakai oleh angkatan laut.
Orang Prancis menyebut celana ini dengan sebutan “bleu de GĂ©nes”, yang
berarti biru Genoa. Meski tekstil ini pertama kali diproduksi dan dipakai di
Eropa, tetapi sebagai fashion, jeans dipopulerkan di AS oleh Levi Strauss,
seorang pemuda berusia dua puluh tahunan yang mengadu peruntungannya ke San
Francisco sebagai pedagang pakaian. Ketika itu, AS sedang dilanda demam emas.
Levi Strauss & Co. adalah produsen pakaian Amerika Serikat yang didirikan
pada tahun 1853 oleh Levi Strauss. Perusahaan ini bersifat internasional dengan
3 divisi geografis Levi Strauss North Americas, bermarkas di San Francisco,
Levi Strauss Europe, dengan markas di Kota Brusel dan Levi Strauss Asia
Pacific, markas di Singapura. Jumlah karyawan perusahaan Levi Strauss &
Co. sampai saat ini telah mencapai sekitar 8.850 di seluruh dunia.
2.
EPSON
Awalnya EPSON yang ada saat ini memang bukan berasal dari
Indonesia. Produk asal Jepang ini menjadikan Indonesia menjadi pusat
produksinya didunia. Epson sesungguhnya berawal dari usaha jam merek Seiko. Ya,
merek jam yang selama ini kita kenal itu merupakan cikal bakal berdirinya
EPSON. Boleh dibilang EPSON adalah anak kandung Seiko. Didirikan Hisao Yamazaki
pada 1942, Seiko berada di bawah bendera Daiwa Kogyo. Kala itu, Seiko amat
terkenal akan keunggulannya dalam teknologi presisi kinetiknya. Teknologi ini
sangat memperhatikan detail, ketepatan, serta keakuratan secara mekanis dan
berulang. Sebuah teknologi yang mencerminkan gaya hidup orang Jepang.
3.
KFC
KFC (dulu dikenal dengan nama Kentucky Fried Chicken) adalah
suatu merek dagang waralaba dari Yum! Brands, Inc., yang bermarkas di
Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Didirikan oleh Col. Harland Sanders, KFC
dikenal terutama karena ayam gorengnya, yang biasa disajikan dalam bucket. Col.
Sanders mulai menjual ayam gorengnya di pom bensin miliknya pada tahun 1939 di
Corbin, Kentucky yang selanjutnya pindah ke sebuah motel. Ia menutup usahanya
pada akhir 1940-an sewaktu jalan tol Interstate melalui kotanya. Pada awal
1950-an, ia mulai berkeliling Amerika Serikat dan bertemu dengan Pete Harman di
Salt Lake City, Utah, dan pada tahun 1952 bersama-sama mendirikan restoran
Kentucky Fried Chicken yang pertama di dunia (restoran pertamanya tidak
menggunakan nama tersebut). Sanders menjual seluruh waralaba KFC pada tahun
1964 senilai 2 juta USD, yang sejak itu telah dijual kembali sebanyak tiga
kali. Pemilik terakhir adalah PepsiCo, yang menggabungkannya ke dalam divisi
perusahaan Tricon Global Restaurants yang sekarang dikenal sebagai Yum! Brands,
Inc. Pada tahun 1997, Tricon terpisah dari PepsiCo. Di Indonesia,
pemegang hak waralaba tunggal KFC adalah PT. Fastfood Indonesia, Tbk (IDX:
FAST) yang didirikan oleh Kelompok Usaha Gelael pada tahun 1978, dan terdaftar
sebagai perusahaan publik sejak tahun 1994. Restoran KFC pertama di Indonesia
dibuka pada bulan Oktober 1979 di Jalan Melawai, Jakarta.
4.
LG
Didirikan pada 1947, Lucky Chemical Industrial Co.
(sekarang disebut LG Chemical), adalah merupakan perusahaan kimia pertama di
Korea. Perusahaan ini merupakan sebuah kerja sama antara keluarga Koo dan Heo,
yang telah memiliki bisnis yang saling bersaing satu sama lain untuk beberapa
generasi. Grup ini memperluas ke peralatan rumah tangga pada 1958 di bawah nama
Goldstar Electronics Co. GeumSung being Planet Venus)(sekarang disebut LG
Electronics), yang merupakan perusahaan elektronik pertama di negara
tersebut. LG Indonesia didirikan pada 15 Desember 1990 yang berpusat di
Gedung Garuda Indonesia. LG Indonesia juga sebagai sponsor resmi Persija
Jakarta
Berawal dari perusahaan kecil dengan modal hasil pinjaman,
RIM berkembang menjadi perusahaan yang paling di kagumi dan di hormati dai
Kanada. Kisah sukses perusahaan dengan nama lengkap Research In Motion Ltd,
berawal dari keinginan seorang pemuda yang di drop out dari kampusnya untuk
membuktikan diri. Adalah seorang yunani bernama Mike Lazardis yang berimigrasi
dari Turki ke Kanada pada tahun 1967. Usianya yang ke 23 Lazardis mendapat
kenyataan pahit karena di keluarkan dari Universitas Waterloo, dimana dia
mendalami teknik elektro. Lazardis mendapat pinjaman modal usaha dari teman dan
keluarganya. Dengan modal tersebut, Lazarsis dan dua temannya mendirikan RIM di
Waterloo,Ontario Kanada th 1984. BlackBerry pertama kali diperkenalkan di
Indonesia pada pertengahan Desember 2004 oleh operator Indosat dan perusahaan
Starhub. Perusahaan Starhub merupakan pengejewantahan dari RIM yang merupakan
rekan utama BlackBerry.
CONTOH PERUSAHAAN
MULTINASIONAL DI INDONESIA DAN PENGARUHNYA
Dewasa ini pertumbuhan Perusahaan
Multinasional (Multinational Corporations) semakin berkembang pesat.
Eksistensi Multinational Corporations (selanjutnya disebut MNC) sendiri
sudah ada sejak lama, bahkan sejak sebelum Perang Dunia I dimulai. Sejak
awal kehadirannya, hingga pertengahan tahun 1980an MNC sudah
tumbuh berkali-kali lipat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan perdagangan
dunia. MNC memiliki jenis-jenis yang beragam, mulai dari perusahaan
eksplorasi tambang migas dan mineral, perusahaan-perusahaan manufaktur, hingga
ke bidang pendidikan serta gerai-gerai pangan seperti kafe. Salah satu
Perusahaan Multinasional yang bergerak di bidang kafe ataupun gerai-gerai
pangan adalah Dunkin’ Donats, atau yang lebih akrab disingkat dengan
sebutan DD.
Dunkin’ Donats sendiri mulai masuk
ke Indonesia pada tahun 1985, dengan gerai pertamanya di Jl. Hayam Wuruk,
Jakarta Pusat. Sebenarnya, Dunkin’ Donats bukan merupakan perusahaan donat
multinasional pertama yang masuk ke Indonesia. Di tahun 1968, American Donat
merupakan perintis donat pertama yang digoreng dengan mesin otomatis di Pekan
Raya Jakarta. Selain membuka gerainya di pekan raya, American Donat
juga membuka gerainya di berbagai tempat di Jakarta. Selain itu, masih ada
perusahaan-perusahaan multinasional donat lainnya yang juga berusaha
mengimbangi gerak Dunkin’ Donats, seperti Country Style Donats asal Kanada, Donats
Xpress asal Australia, Krispy Kreme yang juga berasal dari AS, serta masih
banyak lagi perusahaan-perusahaan donat lainnya.
Meskipun demikian, Dunkin’ Donats-lah
yang dinilai paling berhasil dalam meluaskan jaringan pasarnya di Indonesia,
bahkan di dunia. Dunkin’ Donats telah berhasil membuka lebih dari 8.800
gerai donatnya di lebih dari 35 negara di berbagai benua. Di Indonesia
sendiri Dunkin’ Donats telah membuka 200 gerai lebih di kota-kota besar di
seluruh Indonesia, seperti Medan, Yogyakarta, Bandung, Bali, Surabaya,
Makassar, Jakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia. Dunkin’Donats telah
berhasil menjadi model dalam hal pelayanan serta konsep gerai yang dimilikinya.
Bahkan Dunkin’Donats terkadang dianggap sebagai bayang-bayang bagi perusahaan donat
lainnya. Di Jogjakarta, Dunkin’ Donats telah merambah ke mall-mall, swalayan
serba ada, jalan-jalan di malioboro, hingga ke bookstore-bookstore seperti
Gramedia.
Kembali
kepada isu mengenai MNC yang mengundang banyak polemik dari berbagai
kalangan, terutama mengenai kehadirannya di Negara-Negara Dunia Ketiga.
Perusahaan-perusahaan Multinasional dianggap sebagai ancaman bagi usaha-usaha
lokal di negara tempat ia berada. Namun, meskipun demikian, pemerintah
negara-negara tersebut tetap saja saling berlomba-lomba (bidding wars)
untuk menarik investor agar mau menanamkan modalnya di negara mereka dalam
bentuk Foreign Direct Investment. Kehadiran MNC terkadang memang
membawa keuntungan dan kerugian. Hal inilah yang menjadi perdebatan antara
pihak-pihak yang pro dan kontra atas kehadiran Perusahaan Multinasional di
negara mereka.
Pihak yang kontra berpendapat bahwa
Perusahaan Multinasional dalam praktiknya membawa lebih banyak kerugian
daripada keuntungan bagi negara mereka. Salah satu isu yang paling
kontroversial mengenai kehadiran MNC—terutama di negara-negara
berkembang—adalah isu mengenai outsourcing. Selain itu, terkadang
kedaulatan nasioal juga tergadaikan dengan adanya upaya MNC untuk masuk ke
dalam negara tersebut. Upaya alih teknologi yang pada mulanya diisukan sebagai
keunggulan dari masuknya perusahaan multinasional di negara-negara berkembang
ternyata tidak terbukti. Di samping itu, masih banyak lagi reaksi-reaksi
negatif lainnya yang bermunculan akibat masuknya perusahaan multinasional di
negara-negara dunia ketiga.
Namun, terkadang orang menjadi lupa
bahwa kehadiran Perusahaan Multinasional sebenarnya tidak hanya membawa dampak
yang negatif saja bagi negara penerima. Selain membawa modal asing dan
pemasukan berupa pajak, MNC sebenarnya juga membawa dampak positif lainnya.
Perbincangan mengenai MNC tidak akan berkembang jika hanya mengenai dampak
negatif yang dibawa oleh MNC saja. Kehadiran MNC sebenarnya bisa menjadi
stimulus bagi berkembangnya usaha-usaha lokal sejenis yang ada bagi negara
penerima. Salah satu contoh kasus yang disajikan dalam tulisan ini adalah kehadiran
Dunkin’Donats yang memacu hadirnya usaha-usaha donat lokal seperti J.CO,
I-Crave, Java Donat, dan lain sebagainya.
MASUKNYA
DUNKIN’ DONATS DI INDONESIA
Dunkin’Donats pertama kali masuk ke
Indonesia melalui Penanaman Modal Asing Langsungnya dengan membuka perusahaan
pertamanya di Jakarta. Dunkin’ Donats sebelumnya juga telah membuka
cabang-cabangnya (franchise) di berbagai negara, seperti negara-negara
di Eropa.
Sebelumnya, dengan mengacu pada UU
No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, mari kita lihat terlebih dahulu
apa yang dimaksud dengan penanaman modal asing: “Pengertian penanaman modal
asing di dalam undang-undang ini hanyalah meliputi penanaman modal asing secara
langsung yang dilakukan … berdasarkan ketentuan-ketentuan undang-undang …. dan
yang digunakan untuk menjalankan Perusahaan di Indonesia…” Sedangkan
yang dimaksud dengan Modal Asing dalam undang-undang tersebut adalah: “Alat
pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari kekayaan devisa
Indonesia, yang dengan persetujuan Pemerintah digunakan untuk pembiayaan
Perusahaan di Indonesia. Salah satu
bentuk pembiayaan yang dilakukan oleh Perusahaan Multinasional di Indonesia
adalah dalam bentuk pajak (taxation).
Dunkin’Donats pada mulanya tumbuh
dan berkembang di kota Boston, Amerika Serikat pada tahun 1940 (dengan nama
awal Open Kettle). Kemudian perusahaan ini terus tumbuh dan berkembang hingga
akhirnya pada tahun 1970, Dunkin’Donats telah berhasil menjadi perusahaan
dengan merek internasional. Kemudian pada tahun 1983 perusahaan Dunkin’Donats
dibeli oleh Domecq Sekutu (Allied Domecq) yang juga membawahi Togo’s dan
Baskin Robins. Di bawah Allied Domecq, perluasan pasar
Dunkin’Donats secara internasional semakin diintensifkan. Hingga akhirnya gerai
Dunkin’Donats tersebar tidak hanya di benua Amerika saja, tetapi juga meluas ke
benua-benua seperti Eropa dan Asia.
Di Indonesia sendiri, Dunkin’ Donats
mulai merambah pasarnya pada tahun 1985 dengan gerai pertama didirikan di Jalan
Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Khusus wilayah Indonesia, master franchise Dunkin’Donats
dipegang oleh Dunkin’ Donats Indonesia. Saat pertama kali Dunkin’Donats membuka
gerai pertamanya di Indonesia (pada tahun 1980-an), tidak ada reaksi keras dari
masyarakat yang menentang perusahaan tersebut untuk masuk. Masyarakat cenderung
menganggap positif atas upaya perusahaan tersebut dalam memperluas jaringan
pasarnya. Mereka justru cenderung merasa senang atas hadirnya Dunkin’Donats
di Indonesia.
PENGARUH
KEHADIRAN DUNKIN’ DONATS DI INDONESIA
Hadirnya suatu Perusahaan
Multinasional baru, tentunya membawa pengaruh bagi negara penerima perusahaan
tersebut. Demikian pula kehadiran Dunkin’Donats sendiri yang juga membawa
pengaruh bagi masyarakat.
Secara sosial, pengaruh yang dibawa
oleh perusahaan Dunkin’Donats tidak membawa dampak yang signifikan bagi pola
kehidupan masyarakat. Ada yang berpendapat bahwa kehadiran MNC dapat mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih
konsumtif. Masyarakat dinilai akan saling berlomba-lomba dalam
menggunakan (mengonsumsi) produk dari Perusahaan Multinasional tersebut untuk
menunjukkan strata sosial mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, dalam
hal ini tidak terjadi demikian. Sebelum kehadiran Dunkin’Donats sendiri (tahun
1985), sudah ada American Donats yang masuk terlebih dahulu pada tahun 1968.
Sementara, donats sendiri bukanlah suatu produk makanan yang baru. Ia sudah ada
dan populer di tengah-tengah masyarakat sama seperti halnya roti.
Sedangkan mengenai isu
outsourcing—yang juga dinilai akan memberikan kontribusi bagi peningkatan
jumlah penduduk perumahan kumuh di daerah perkotaan—tidak berlaku bagi
kehadiran perusahaan ini. Produksi donat yang dihasilkan dari perusahaan ini
menggunakan teknologi mesin penggoreng otomatis. Sehingga, tenaga manusia yang
digunakan lebih banyak bergerak di bidang Manajemen dan Pelayanan. Hal ini
justru membawa dampak yang positif bagi masyarakat, yaitu yang paling pokok
adalah mengurangi angka pengangguran
dan memberdayakan produktivitas sumber daya manusia. Selain itu,
bagi masyarakat pribadi, hal ini dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam
bidang manajemen dan pemasaran ditambah lagi dengan perluasan jaringan kerja (work
networking).
Sedangkan secara ekonomi, kehadiran
dan keberadaan Dunkin’Donats tidak sampai mengancam eksistensi (keberadaan)
usaha-usaha donat lokal yang ada. Buktinya saja sampai saat ini kita masih
menjumpai penjual-penjual yang menjajakan donat buatan industri rumah tangga
ataupun industri kecil. Baik di pasar-pasar tradisional, sekolah-sekolah maupun
kantor, warung, serta pedagang-pedagang keliling. Kehadiran Dunkin’Donats
dianggap sebagai salah satu varian dari jenis-jenis donat yang ada. Selain itu,
adanya segmentasi pasar tersendiri dari Dunkin’ Donat, membuat eksistensi
usaha-usaha donat lokal yang ada tetap terjaga.
Ada satu hal yang menarik dari
pengaruh kehadiran Perusahaan Multinasional Dunkin’Donats di Indonesia. Secara
empiris, hadirnya Dunkin’ Donats telah menstimulus
timbulnya persaingan dari perusahaan lokal sejenis. Terbukti saat ini
mulai banyak bermunculan perusahaan donat lokal yang menghasilkan donat-donat
berkualitas sampai dengan yang berorientasi pada bentuk resto donat dan kopi.
Sebut saja donat I-Crave, Java Donat, Donat Kampoeng Utami (Dku. Donats
Indonesia), Ring Master, sampai perusahaan donat J.CO (milik penata rambut
Indonesia ternama, Johnny Andrean) yang semakin digemari para penikmat donat.
Dunkin’ Donats yang merupakan restoran donat dan kopi dengan jaringan terbesar
di dunia saat ini terbukti mampu merangsang pertumbuhan perusahaan donat lokal
yang ada.
Saat ini bahkan perusahaan donat
J.CO dinilai mampu menandingi Dunkin’Donats dalam hal pelayanan dan kualitas
produk yang ditawarkan (berdasarkan jumlah pengunjung yang datang dan antre
setiap harinya). Hal ini mungkin sejalan dengan istilah laissez-faire (“let
be” atau biarkan saja). Di mana pemerintah membiarkan “Perusahaan” masuk dan
berkembang hingga akhirnya mampu memicu persaingan dengan pengusaha lokal. Hal
ini mungkin juga sejalan dengan prinsip liberalisme dalam tulisan Adam Smith
(1776), yaitu teori The Invisible Hand. Smith yakin pada sifat baik
manusia yang mau bekerjasama dan konstruktif. Masyarakat bisa saling bekerja
dalam keselarasan dengan sesamanya, walaupun bersaing dalam melayani pelanggan
yang sama ataupun menghasilkan produk yang sama.
DAMPAK
KEHADIRAN DUNKIN’ DONATS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN USAHA LOKAL
Telah dibahas pada bagian sebelumnya
bahwa keberadaan Perusahaan Multinasional Dunkin’Donats terbukti tidak sampai
mengancam eksistensi (keberadaan) perusahaan lokal yang ada. Pedagang-pedagang
tradisional banyak yang menjajakan donat-donat dari usaha industri kecil
ataupun usaha rumah tangga. Bahkan saat ini pun industri rumahan tersebut
banyak yang mengadaptasi adonan kue donat yang lebih lembut. Adanya segmentasi
pasar juga menjamin keberlangsungan perusahaan donat-donat lokal. Sehingga
kehadiran Dunkin’Donats tidak terlalu mengancam usaha-usaha tersebut.
Di samping itu, saat ini pun sudah
mulai banyak perusahaan-perusahaan donat lokal yang mampu menghasilkan
produk-produk donat berkualitas. Bahkan sebagian dari mereka sudah mempunyai
nama ataupun membuka gerai berkonsep resto donat dan kopi seperti halnya
Dunkin’Donats. Sebut saja donat I-Crave, Java Donat, J.CO, Donat Oishii, Mister
Donat, dan lain sebagainya. Donat-donat lokal ini juga tidak kalah digemarinya
oleh para penikmat donat. Sebuah polling dalam sebuah situs internet baru-baru
ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kegemaran para penikmat donat terhadap
rasa dari jenis-jenis donat yang ada, baik lokal maupun yang dari luar.
Salah satu dari
perusahaan-perusahaan donat lokal yang mampu bersaing dengan Perusahaan Dunkin’Donats
adalah J.CO (perusahaan milik penata rambut Johnny Andrean). J.CO mulai berdiri
sejak tahun 2005. Perusahaan ini bahkan dianggap mampu menyaingi Dunkin’Donats
dalam hal cita rasa dan pelayanan. J.CO pun telah membuka gerai-gerainya
di mall-mall besar di kota-kota besar di Indonesia. J.CO dianggap sebagai salah
satu perusahaan donat lokal yang mampu keluar dari bayang-bayang Perusahaan
Multinasional Dunkin’Donat.
Perusahaan
donat J.CO dianggap sebagai perusahaan donat lokal yang berhasil membuat
gebrakan dalam bisnis di bidang resto donat dan kopi. J.CO dianggap
berhasil “tampil beda” dengan para pemain sebelumnya karena berhasil menawarkan
konsep gerai baru. J.CO menggunakan konsep gerai “Open Kitchen”
(sama seperti Bread Talk, keduanya juga berada dalam satu payung perusahaan
yang sama). Namun, bukan hanya konsep gerai saja yang membuat J.CO dianggap
lebih unggul daripada Dunkin’Donats. Kualitas jasa (tingkat pelayanan) J.CO
juga dinilai lebih baik daripada tingkat pelayanan Dunkin’Donats.
Di
samping itu, kualitas produk dalam hal rasa dan bahan J.CO juga dinilai lebih
baik dan lebih berkualitas. J.CO dinilai lebih legit dan lebih lembut bagi para
penikmat donat dibandingkan dengan rasa Dunkin’ Donats. Bahan-bahan yang
digunakan juga dinilai baik dan sehat. Misalnya, coklat putih Belgia, yoghurt
dan susu bebas lemak, biji kopi yang dikembangkan dari Brazil—dan lain sebagainya—yang
memang dinilai sebagai bahan-bahan yang berkualitas. Selain itu, teknologi
mesin penggoreng yang digunakan juga diimpor langsung dari Amerika
Serikat.
Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan
lokal juga mampu memiliki kualitas dalam hal produk, pelayanan, maupun sistem
manajemen yang tidak kalah dengan Perusahaan-Perusahaan Multinasional. Ditambah
lagi, perusahaan J.CO juga memiliki “wadah” komunitas berupa J.CO Community dan
jejaring sosial berupa facebook. Sehingga memudahkan J.CO untuk menyalurkan
info-info kepada para pelanggannya, baik berupa launching gerai ataupun outlet
baru, promosi produk, sampai dalam hal pelayanan baru misalnya berupa Midnite
Sale. Event-event ataupun kegiatan-kegiatan yang diadakan perusahaan
tersebut, biasanya juga diinformasikan melalui sarana media tersebut. Hal ini
membuat perusahaan J.CO semakin dekat dengan para pelanggannya
Tidak hanya memasarkan produknya di
dalam negeri (tingkat lokal) saja. J.CO Donats & Coffee Indonesia juga
telah membuka cabang-cabangnya di negara-negara Asia Tenggara.seperti Malaysia,
Singapura dan Filipina. Di Malaysia sendiri, J.CO Donats & Coffee telah
membuka gerainya di Kuala Lumpur dan Petaling Jaya, Selangor—yang dianggap
sebagai pusat kegiatan ekonomi Malaysia. Saat ini bahkan J.CO dianggap sebagai
waralaba resto Donat & Coffe yang laju pertumbuhannya paling cepat di Asia
Tenggara.
Fakta-fakta tersebut di atas
menunjukkan bahwa, perusahaan-perusahaan lokal terbukti juga tidak kalah
bersaing dengan Perusahaan-Perusahaan Multinasional yang berasal dari luar
negeri. Bisnis di bidang pangan berupa resto Donat & Coffe merupakan salah
satu contoh kemajuan yang dimiliki oleh usaha-usaha lokal. Masih banyak lagi
usaha-usaha lokal yang juga “memiliki nama” di tingkat regional bahkan global. Misalnya
saja perusahaan Mustika Ratu ataupun Sari Ayu yang merupakan produk di bidang
kecantikan. Hal ini tentunya juga menjadi pemicu bagi perusahaan-perusahaan
lokal lainnya untuk turut bersaing di era globalisasi ini. Tidak selamanya
Perusahaan Multinasional hanya dikuasai oleh negara-negara ekonomi maju. Bahkan
saat ini disebutkan bahwa para pelaku MNC dari negara-negara ekonomi maju
eksistensinya mulai terancam, karena mendapatkan saingan yang cukup ketat dari
negara-negara industri
berkembang serta negara-negara berkembang lainnya (new emergent forces)
